General Issue

TOLERANSI-INTOLERANSI, MULTIKULTURAL SEBAGAI FATAMORGANA KEHIDUPAN

fullsizerender-10

chs-4Oleh : Chazali H.Situmorang, Dosen FISIP UNAS-FKIP UNIDA

 

Pendahuluan  

Ada apa dengan toleransi-intoleransi, dan kemajemukan  kultur (multikultursal), dalam kehidupan nasionalisme kita (berbangsa dan bernegara). Apa benar konsep toleran dan intoleran berkaitan dengan bilangan besar dan bilangan kecil. Apakah ada hubungan dan bagaimana hubungannya antara toleran-intoleran, multicultural  dengan situasi ekonomi dan pergesaran  nilai-nilai budaya dan agama bangsa ini. Bagaimana juga kaitannya dengan kesenjangan sosial, partsipasi sosial, integrasi sosiial, kesalehan sosial dan  keadilan sosial  yang jika tidak dikelola dengan baik akan   menimbulkan kecemburuan sosial, konflik sosial,  pada ujungnya  terkait kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia. Welfare State merupakan suatu keniscayaan yang diamanatkan kepada negara ini sesuai dengan konstitusi.

Isyu-isyu diatas, tentu memberikan implikasi yang sifatnya temporary tapi juga bisa bersifat long term yang kalau Negara ini tidsak menegelolanya dengan baik, akan mempengaruhi bahkan mereduksi produk kerja, kerja, kerja yang dikobarkan Presiden Jokowi. Secara internasional, karena kita bangsa yang besar dan proaktif dalam pergaulan antar bangsa, terikat dan mengikat diri dengan perjanjian-perjanjian bilateral maupun multilateral yang situasinya saat ini sedang  menari  dengan irama gendang yang dimainkan bangsa dan Negara lain.  Dan karena keterbukan informasi, dan berkembangnya media sosial maka apapun yang terjadi di republik ini walaupun sebuah jarum yang jatuh kelantai rakyatnya pasti mengetahui. Apakah hal itu sesuatu yang positif atau negative bagi bangsa ini, hanya perjalanan sejarah bangsa yang akan membuktikannya.

Kondisi internal bangsa ini yang sedang dihadapi tersebut dengan tingkat kompleksitas yang tinggi, dan kondisi eksternal bangsa yang terus melakukan penetrasi secara ekonomi, sosial, politik, idiologi  bahkan sumber daya manusia tentu memerlukan Negara, pemerintah dan rakyat yang kuat.  Penyelenggara Negara harus menjadi petarung yang tidak gampang menyerah. Harus menjadi personal yang risk taking  berani mengambil resiko dalam situasi, cuaca, dan suasana apapun. Tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas, tahan dengan segala cuaca.

Berbagai persoalan dan masalah, harus didudukkan pada duduk persoalan sebenarnya. Kita harus jujur menyatakan bahwa masalah mendasarnya apa, apakah yang disampaikan itu masalah pokok atau cekereme, sebab jangan sampai habis energy ini untuk menyelesaikan suatu masalah besar tapi setelah ditelusuri bukan itu masalahnya. Jadi menyelesaikan masalah yang bukan masalah , ya tidak akan selesai. Kita sekarang banyak membicarakan toleransi-intoleransi dan kemajemukan bangsa dalam kehidupan beragama  yang diindikasikan sedang mengalamai degradasi yang luar biasa. Berbagai penelitian/survey dilakukan oleh lembaga-lembaga survey, dengan mengambil ratusan sample dan sudah terbangun hipothesa tentang toleransi dan intoleransi dengan responden yang  purposive. Survey menggunakan kacamata kuda, dan dalam penelitian sosial sering dinyatakan dengan embel-embel  “asumsi  bahwa factor-faktor lain diabaikan”. Penelitian sosial dengan rapid survey memang harus hati-hati memahaminya. Oleh karena itu penelitian sosial lebih baik dilakukan secara kualitatif (pengamatan mendalam) dari pada kuantitatif dengan sampling error  yang secara ril susah diketahui,    dan penarikan kesimpulan yang tidak boleh berlaku general.

Pernakah terpikir oleh kita, bahwa pesoalan-persoalan toleransi-intoleransi, pangkalnya (walaupun tidak tunggal), karena kemiskinan, karena kekayaan yang berlebihan, karena kekuasaan, karena jabatan, atau karena kebodohan atau kepintaran?. Misalnya, karena miskin sesorang menjadi tolerans kalau kebutuhan hidupnya terpenuhi, atau orang miskin bisa menjadi intoleransi karena ajakan orang lain  untuk tidak toleran asalkan kebutuhan hidupnya terpenuhi. Dalam hal ini tentunya nasionalisme kita sebagai bangsa dipertaruhkan untuk kelangsungan Negara dan bangsa Indonesia

Pemikiran Nasionalisme

Dalam dekade terakhir ini nasionalisme dan wacana bangsa telah menjadi perhatian utama dalam sosial masyarakat bangsa Indonesia. Tidak akan lengap jika kita bicara dunia kontemporer tanpa wacana tersebut. Namun ada kesepakatan para pemikir sosial tentang bagaimana sebaiknya nasionalisme dipelajari. Konsep nasionalisme sendiri jelas merupakan salah satu istilah yang diperdebatkan, tapi menjadi kosakata yang popular yang sering dijadikan simbol jati dirinya sebagai warga bangsa. Satu hal sudah jelas: di masa lalu , nasionalisme dikaitkan dengan pemunculan negara modern dalam kondisi modernisasi, sementara di masa kini pemunculan lembaga negara modern tersebut berhubugan dengan kemunduran negara-bangsa modern dalam kondisi globalisasi.

Argumentasi utamanya phenomena di atas ialah bahwa sekarang  kita tengah menyaksikan pemisahan bangsa dari agama disamping  pemisahan bangsa dari negara. Kemunduran negara-bangsa menyebabkan baik bangsa maupun negara mengalamai logika perkembangan yang berbeda. Tampaknya situasi sekarang ini yang melanda dunia dan tidak terkecuali Indonesia bisa dicirikan dengan sebuah paradoks: gagasan bangsa sangat hidup ( mis bangsa China), sedangkan negara diduga mengalami kemunduran atau sekurang-kurangnya tidak lagi menikmati kedudukan kuat yang pernah dicapainya ( ingat isyu Asymetrical  Wars yang diangkat Siti Fadilah Mantas Menkes).  Salah satu cara untuk mencermati hal ini adalah dengan melihat pergeseran bertahap wacana bangsa dari negara, yang dalam kondisi globalisasi mulai lepas dari legitimasi budaya , tetapi harus terus menghadapi perlawanan bangsa.

Sejak akhir tahun 1980-an, nasionalisme semakin meningkat di seluruh penjuru dunia, khususnya di negara-negara bekas komunis, tetapi di Eropah Barat nasionalisme juga meningkat secara mencolok. Inilah salah satu perbedaan utama antara nasionalisme sekarang dengan nasionalisme di masa lalu; nasionalisme sekarang merupakan ekspresi konflik di dalam negara –bangsa, bukan di antara negara-bangsa. Selama periode klasik pembangunan negara – bangsa pada akhir abad kesembilan belas, nasionalisme menjadi ekspresi perkembangan identifikasi rakyat dengan negara. Bagian pentingnya adalah “imperialisme social” , menanamkan patriotisme di sekitar kekaisaran-kekaisaran yang baru terbentuk itu, negara-negara Barat semakin banyak jumlahnya. Jika nasionalisme lama Jingoistic-cinta tanah air yang berlebihan, nasionalisme baru xenofobik-tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan orang asing, Nasionalisme sekarang lebih merupakan persoalan eksklusi dari pada inklusi; focus nasionalisme sekarang tertuju pada imigran dan minoritas di dalam negara, bukan pada negara-negara lain. Kesetaraan dan modernitas menjadi inti bagi nasionalisme lama, sedangkan ‘pembersihan etnis’ menjadi metafora bagi nasionalisme baru.

Di banyak tempat di dunia, nasionalisme dihubungkan dengan meningkatnya kejadian perang saudara,  bukan perang di antara negara – bangsa. Ada juga perubahan-perubahan besar pada komposisi sosialnya. Di masa lalu, nasionalisme adalah idiologi kaum elite yang bersaing memperebutkan dukungan rakyat  ; dalam kesempatan lain, nasionalisme adalah idiologi yang dipaksakan dari atas oleh negara kepada masyarakat. Kini nasionalisme pada umumnya berasal dari ‘bawah’ dan anti-statis. Komponen anti-statis dalam nasionalisme baru ini dicontohkan Northerm League, yang berpendapat negara Italia tidak bisa dipercaya, dan dalam kasus ekstrim , kalangan milisi Amerika , yang berpendapat pemerintah federal mengkhianati bangsa Amerika. Situasi ini juga sedang melanda pemerintahan Jokowi yang sebahagian masyarakat mengeluhkan karena belum dapat memenuhi   janji-janjinya untuk kesejahteraan rakyat

Dalam persoalan identitas nasional, nasionalisme, negara-bangsa acapkali  tidak di definisikan secara akurat dan mempunyai banyak ragam kegunaan (applicability), dengan istilah ‘bangsa’ sering digunakan untuk menyebut ‘masyarakat-masyarakat’ dan ‘kebangsaan’ untuk mengartikan kewarganegaraan ( citizenship). Istilah ‘nasionalisme’ bisa bermakna sebagai sebuah gerakan atau sebagai ideologi atau pemikiran dan sering disamakan dengan istilah ‘identitas nasional’ yang lebih sukar dimengerti, sementara istilah bangsa (nation) sering dipakai padahal sebenarnya yang dimaksud adalah negara  seperti pada contoh ‘Perserikatan Bangsa-Bangsa’ (yang sesungguhnya organisasi Negara-negara).

Ada dua cara untuk memandang persoalan identitas nasional ini: negara yang menciptakan bangsa atau bangsa yang menciptakan negara. Menurut pandangan yang pertama , bangsa didefinisikan oleh negara. Contoh-contohnya adalah Negara-negara teritorial Eropah yang berusia tua, seperti Prancis, Spanyol, Inggeris yang bentuk negaranya mendahului wacana tentang bangsa atau setidaknya pemikiran modern tentang bangsa, dan identitas nasionalnya dibentuk oleh negara dan elite-elitenya. Menurut pandangan kedua, adalah negara hasil ciptaan bangsa, contoh-contoh disini adalah Irlandia, Italia, Israel dan Jerman. Dan identitas nasionalnya datang dari ‘bawah’ dan diciptakan untuk melawan negara yang telah ada. Indonesia adalah bagian dari pandangan kedua yaitu Negara dibentuk oleh bangsa. Ingat Sumpah Pemuda, ber bangsa satu , bangsa Indonesia. Ini merupakan tekad banga Indonesia untuk berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dari aspek idiologi, nasionalisme dapat disejajarkan dengan liberalisme, , konservatisme , dan sosialisme sebagai salah satu doktrin idiologis terbesar di zaman modern saat ini.  Sebagai ideologi politik , nasionalisme adalah doktrin yang dikodifikasi oleh elite yang berusaha memobilisasi massa, atau dalam kasus-kasus lain, berusaha memberikan system ligitimasi bagi suatu orde politik. Dalam hal ini, peran sentral kaum intelektual sangat penting dalam kodifikasi nasionalisme.

Ada dua idiologi nasionalisme modern yang paling berpengaruh ialah idiologi nasionalisme modern Giuseppe Mazzini dan Woodrow Wilson. Mazzini pengusung nasionalisme republikan modern dan beragumen  bahwa bangsa-bangsa dengan ukuran tertentu berhak mempunyai negara sendiri. Dalam konsep Mazzini pada dasarnya bangsa adalah komunitas budaya berteritori besar yang mempunyai hak sejarah  untuk direalisasikan dalam sebuah negara berdaulat. Doktrin nasionalisme ini berasal dari penekanan Pencerahan pada determinasi-diri dan sangat berpengaruh sepanjang paroh kedua abad kesembilanbelas. Memunculkan banyak gerakan nasionalisme seperti Young Italy, Young Poland, dan  Young Ireland ( tapi aneh juga Mazzani menolak tuntutan Young Ireland, karena Irlandia terlalu kecil).

Abad keduapuluh menandai lahirnya nasionalisme sessionist, dan terbentuknya negara-negara baru sebagai salah satu akibat dari keadaan-keadaan sesudah perang dunia pertama, khususnya masaalah pembubaran Kekaisaran  Habsburg dan Kekaisaran Turki. Kriteria pembentukan negara-negara baru ini ditentukan oleh Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson. Rencana tiga belas butirnya yang mencakup komitmen pada prinsip determinasi-diri , memberikan kegitimasi ideologi kuat – dan didukung oleh V.I. Lenin – pada gagasan bahwa bangsa-bangsa harus direalisasikan sebagai negara. Masaalahnya dalam hal ini tidak pernah ada kejelasan  apa tepatnya yag disebut dengan bangsa (nation) itu. Akibatnya banyak identitas yang didefinisikan secara etnis tiba – tiba mendapati diri mereka dideklarasikan sebagai ‘bangsa’, lalu bertransformasi menjadi negara, sebab lebih mudah membentuk negara daripada menciptakan bangsa. Doktrin determinasi – diri mengasumsikan bahwa sebuah bangsa bisa didefinisikan secara territorial dan boleh terdiri dari satu etnisitas saja, atau komunitas budaya tunggal. Jadi , dokrin ini mengandalkan persamaan antara bangsa, negara dan kebudayaan.  Namun dengan sedikit pengecualian, yang menjadi masaalah adalah bahwa komunitas budaya tidak pernah diterjemahkan dengan rapi menjadi komunitas politik sehingga perjuangan untuk determinasi – diri sering diassosiasikan dengan kekerasan., baik politik maupun kultural. Untuk masaalah ketidak harmonisan antara negara, bangsa dan kebidayaan ini , solusi yang ditemukan banyak Negara bermacam-macam,meliputi   genocida, pengusiran,    pemisahan, pertukaran  populasi marginalisasi, dan asimilasi paksa

Dari berbagai historikal yang diuraikan diatas, bagaimana Indonesia merumuskan nasionalismenya?. Saya menemukan jawabannya pada falsafah hidup bangsa Indonesia dan sangat simpel  yaitu BHINEKA TUNGGAL IKA. Dalam falsafah nasionalisme bhineka tunggasl ika, sudah sangat mudah difahami dan mendeskripsikan bangsa dan negara ini. Indonesia memiliki banyak perbedaan dibandingkan dengan bangsa lain. Ratusan budaya, hampir tiap kabupaten ada budaya yang spesifik, ada bahasa lokal yang spesifik, ada prilaku yang  spesifik, bertebar di ribuan pulau, punya 6 agama resmi, tetapi  semua berikrar dan bersatu  sebagai bangsa Indonesia dengan batas wilayah yang jelas, bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, berbendera satu bendera merah putih. Dan perbedaan itu semua sepakat dibingkai dengan ukiran indah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apa yang menjembatani perbedaan tersebut, yaitu Pancasila. Secara pemahaman  sederhananya, Pancasila adalah rambu-rambu lalu lintas, agar kendaraan yang berlalu lintas untuk menuju suatu tujuan, tidak bertabrakan satu dengan yang lain. Dan rambu-rambu jalan dibuat untuk kepentingan semua orang yang berada ditengah jalan maupun dipinggir jalan.

csdcdscd

Toleransi – intoleransi

Dari berbagai referensi, toleransi dimaknai dengan suatu sikap yang saling menghargai kelompok-kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya.  Toleransi juga adalah suatu perbuatan yang melarang terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam masyarakat.  Toleransi sering diilustrasikan pada agama, toleransi agama kita jumpai dimasyarakat. Adanya toleransi agama menimbulkan sikap saling menghormati masing-masing pemeluk agama. Agamamu untuk mu , agamaku untuk ku itu contoh toleransi dalam ajaran Islam. Tetapi toleransi bukan saja dalam agama, dalam segala segi kehidupan toleransi itu suatu proses agar interaksi sosial masyarakat berjalan dinamis dan harmonis. Kata kunci toleransi adalah nondiskriminatif. Tidak boleh pemaksaan kehendak. Apa saja yang tidak boleh dipaksa, tentunya segala hak-hak warga Negara yang dijamin  dalam konstitusi negara ini. Jadi jika ada aturan pelaksanaan negara ini mengurangi atau mengabaikan hak-hak warga negaranya, berarti negara belum membangun toleransi, jika ada sebagian masyarkat yang memaksakan kehendaknya dan megabaikan hak-hak warga negara lainnya, maka kelompok masyarakat itu tidak melakukan toleransi.

Kenapa kita perlu toleransi?, jawabannya juga jelas karena kita butuh partisipasi masyarkat untuk membangun bangsa ini. Jika pembangunan ini hanya untuk segelintir orang, memang tidak diperlukan partisipasi, jadikan saja  manusia sebagai mesin seperti zaman sebelum revolusi industry. Memang hasilnya  ada pertumbuhan tapi tidak pemerataan, terjadi kesenjangan dalam segala aspek kehidupan, dan jika negara tidak pandai-pandai, maka negara akan menjadi negara tirani dan otoriter. Dengan toleransi masyarakat dapat hidup dengan rasa memiliki,  rasa turut bertanggung jawab, dan rasa berkewajiban memelihara dan merawat  negara ini.

Toleransi sudah hidup lama pada bangsa Indonesia ini. Pengalaman saya suatu ketika menginap dirumah atasan saya yang non muslim. Dikamar tidur sudah disediakan sajadah untuk sholat dan sekalian arah kiblatnya. Dia katakan bahwa  keluarganya yang muslim sering juga menginap. Itu contoh sederhana dari toleransi. Pengalaman saya yang lain, sewaktu kunjungan kerja di salah satu kabupaten di NTT, karena hotel penuh diisi rombongan Presiden, maka oleh pejabat setempat saya ditawarkan untuk tidur di kamar yang biasanya digunakan untuk Pastur jika datang ke gereja setempat.  Saya dengan senang hati menerimanya, dan saya tidur dengan nyenyak dan sholat di kamar tidur pastur tersebut. Bagi saya itu salah satu bentuk toleransi yang hidup dan berkembang dimasyarakat. Apa bentuk toleransi lain ,yaitu toleransi sosial, dengan berbagi, sehingga sering dijadikan tageline INDAHNYA BERBAGI. Semua agama berlomba-lomba untuk berbagi, bahkan yang seharusnya menjadi kewajiban Negara untuk berbagi, saat ini banyak di take over oleh masyarakat. Jadi toleransi bukanlah suatu barang baru bagi bangsa ini. Dan kurang paslah jika disebutkan bahwa bangsa ini megalami degrasi toleransi. Itukan katanya  elite-elite politik, pemikir-pemikir gelisah yang miskin rohani. Toleransi itu adalah kodrat, dan manusia ini akan musnah jika sudah tidak ada toleransi. Apakah engkau tega memakan daging saudara mu sendiri?. Itu peringatan Allah kepada manusia.

Persoalan toleransi juga jelas batas rambunya. Disinilah negara dalam hal ini pemerintah harus berperan dan memposisikan dirinya sebagai gate keeper, sebagai penapis, sebagai Al-Amin yang dapat dipercaya semua pihak. Oleh karena itu penyelenggara negara harus paham betul budaya, karakter, culture, fanatisme, dan perasaan hati masyarakatnya. Kepahaman yang komprehensif tersebut, sebagai landasan membuat  rumusan demarkasi yang diatur negara benar-benar adil, nondiskrimintif, tidak boleh berpihak, tidak boleh asal bapak sedang, tidak boleh karena untuk pencitraan dan yang paling penting bebas kepentingan, kecuali kepentingan bangsa- negara. Sebagai penyelenggaran negara jangan sekali-sekali melakukan pendekatan politik untuk membangun toleransi. Sebab politik itu kepentingan, dan kepentingan adalah kekuasaan dan kekuasaan hitungannya siapa kuat.

Pemerintah sebagai gate keeper, tentunya menjadikan toleransi sebagai pisau analisis dalam membuat kebijakan pemerintah sebagai kebijakan publik. Pemerintah harus memberikan toleransi maksimal kepada kelompok masyarakat miskin dan tidak mampu untuk dapat memberdayakan dirinya sehingga berkehidupan yang layak, dan mengendalikan kelompok masyarakat mampu (pengusaha), untuk tidak terus-menerus memperluas penguasaannya terhadap asset masyarakat lainnya. Pemusatan kekayaan pada sekitar 20-40 orang terkaya di republik ini dan sebagaian besar bukan pribumi tidak menggambarkan toleransi dalam berusaha di negeri ini, dan pemerintah sebagai gate keeper berkewajiban untuk mengendalikannya. Kita lihat di sektor property, pembangunan perumahan, yang terus menerus membebaskan tanah rakyat dengan iming=iming  harga yang tinggi, kalau ngak mau di “intimidasi” dengan halus melalui jalur RT/RW setempat. Rakyat yang miskin dihimpit kehidupan yang susah, ditawarkan tanah warisan  keluarga dengan harga yang tinggi tentu tergoda. Akhirnya mencari tempat tinggal yang lebih kepinggir, dan bahkan mengontrak karena uang yang ada digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dimana proteksi pemerintah, sulit kita mencarinya. Dan situasi ini terus berlangsung sampai saat ini, bahkan semakin dipamerkan oleh para pengembang di media televisi. Toleransi dalam bidang ekonomi dan sosial  merupakan akar dari semua bentuk toleransi bangsa ini.

Jika tidak toleransi disebutlah istilah intolerasni. Apakah intolaransi selamanya negative, jawabannya tidak selamanya. Apakah toleransi itu selamanya positif, jawabannya juga tidak selamanya. Dia sangat kontekstual. Tergantung apa lingkup persoalannya. Dalam persoalan agama, masyarakat itu sudah membangun sendiri consensus, kesepakatan untuk menjaga kepentingan keagamaannya masing-masing. Yang masih sulit  adalah yang berkaitan dengan sekte/aliran yang ada di setiap agama. In pedekatannya memang harus hati-hati dan tidak mudah. Tapi bagaimana dengan toleransi-intoleransi dalam bidang social, politik, kekuasaan, kebijakan publik. Ternyata belum selesai dan bahkan cenderung semakin mengkhawatirkan.

Bagaimana atraktifnya intoleransi dibidang politik, ditunjukkan bangsa ini, dalam  pergantian Ketua DPR-RI baru-baru ini. Bagaimana struktur kekuasan partai politik, dan kekuasaan pemerintah propinsi, kabupaten/kota  dengan pola dinasti dan kekeluargaan yang dibungkus dengan baju demokrasi.  Itu sikap intoleransi terhadap peluang dan kesempatan bagi masyarakat untuk berperan.

Intoleransi diharuskan jika terkait dengan penegakan hukum, menegakkan aqidah/ ibadah  agama, terhadap pemberontak, terhadap koruptor, dan mereka-mereka yang merusak tatanan masyarakat yang sudah baik. Pemerintah harus intoleran atau toleran nol, terhadap upaya-upaya sekelompok individu atau masyarakat yang melanggar atau membelokkan kebijakan pemerintah, atau mereka-mereka yang dengan pengaruhnya, mempengaruhi pembuat kebijakan agar kebijakan  yang dikeluarkan menguntungkan  seseorang atau kelompok orang dengan mengorbankan kepentingan masyarakat banyak.

picture9

Multikultural

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat dengan tingkat keanekaragaman yang sangat kompleks. Masyarakat dengan berbagai keanekaragaman tersebut dikenal dengan istilah masyarakat multicultural. Multicultural dapat diartikan sebagai keragaman atau perbedaan terhadap suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga masyarakat mutikultural dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Setiap masyarakat akan menghasilkan kebudayaannya masing-masing yang akan menjadi ciri khas bagi masyarakat tersebut.

Dari multikultural berkembang istilah multikulturalisme. Sebagai pemahaman global, banyak rumusan tentang multikulturalisme, antara lain bahwa multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang  menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keragaman, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.  Sedangkan multikulturalisme  terkait dengan penerimaan dan penghargaan terhadap suatu kebudayaan, baik kebudayaan sendiri maupun kebudayaan orang lain. Setiap orang ditekankan untuk saling menghargai dan menghormati setiap kebudayaan yang ada di masyarakat. Apapun bentuk suatu kebudayaan harus dapat diterima oleh setiap orang tanpa membeda-bedakan antara satu kebudayaan dengan  kebudayaan yang lain.

Multicultural yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Indonesia memiliki ribuan pulau dimana setiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.

Dalam konsep dan pemahaman multikultural (multikulturalisme) terdapat kaitan yang erat bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan bhineka tunggal ika serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Walaupun dalam perjalanannya  masih ada hambatan untuk membangun multikultural  di masyarakat, karena berbagai hambatan sosial lainnya, seperti tingkat pendidikan, kesulitan komunikasi dan masih adanya hambatan isolasi wilayah.

Multikulturlkisme sebaai konsep dan proses peradaban yang sedang berlangsung, tentu tidsak terlepas dari pemahaman yang utuh tentang toleransi-intoleransi. Toleransi-intoleransi dan multikultural harus dilihat dalam satu tarikan napas.  Karena ketiga hal tersebut berkontribusi erat, bersinergi kuat dan berinteraksi yang terus-menerus. Maka itu jika toleransi-intoleransi terganggu maka akan ikut juga terhambatnya proses multikultural bangsa. Perkawinan campur antar etnis misalnya, tentu suatu bentuk terjadinya multicultural. Disini terbangun toleransi bersimbiosenya antar budaya yang berbeda, tetapi akan menjadi intoleransi jika ada nilai-nilai budaya  yang bebeda itu merupakan tabu atau larangan bagi adat/budaya lainnya.  Biasanya toleransi terbangun antar budaya yang berbeda, tetapi akan menjadi sulit dan intoleran jika agama yang berbeda. Pola-pola itu masyarakat sudah paham dan mereka saling menyesuaikannya. Ada 4 pilihan ysang dilakukan masyarakat, pertama; perkawinan berlangsung dengan salah satu pihak ikut agama pasangannya, kedua; kawin campur ( berpegang dengan agamanya masing/catatan sipil), dan yang ketiga; adalah kaewin lari (meninggalkan kampong halamannya). Dan keempat; rencana perkawinan dibatalkan. Itulah bentk-bentuk penyelesaian yang berlangsung di masyarakat.

Fatamorgana kehidupan

Kehidupan ini bagai fatamorgana, sering diungkapkan dalam masyarakat. Biasanya menggambarkan sesuatu yang serba hampa, kecewa, dusta, dan kemunafikan. Fatamorgana sebenarnya istilah yang terkait dengan peristiwa fisika alam raya.

Menurut KBBI , fatamorgana adalah 1) gejala optis yang tampak pada permukaan yang panas, yang kelihatan seperi genangan air, 2). Hal yang bersifat khayal dan tidak mungkin tercapai. Kata fatamorgana diambil dari bahasa Italia. Pada mulanya adalah nama saudari Raja Arthur, Faye le Morgana, seorang peri yang bisa berubah – ubah rupa. Dulu fatamorgana sering dikaitkan dengan peristiwa magis. Beberapa penampakan fatamorgana sekompleks bayangan istana dalam mitos sempat dicatat berbagai jurnal. Antara lain pada tanggal 27 september 1846. Dua orang mengaku melihat bayangan kota Edinburgh di langit Liverpool selama 40 menit. Padahal Edinburgh berada sekitar 325 km utarta Liverpool. Peristiwa serupa juga dialami seorang ahli geologi Inggeris. Dia menulis melihat bayangan Toronto di langit Danau Ontario. Di Selat Messina lepas pantai Sisilia Laut Tengah kadang kala muncul sebuah kotak ajaib yang seakan-akan terapung di air. Namun, kotak ini langsung lenyap ketika nelayan mencoba menjaringnya. Masyarakat sekitar sempat menduga kehadiran kotak ajaib  ini sebagai ulah jin atau hantu laut. Ada juga yang menyebutnya sebagai kotak misterius. Padahal apa yang mereka lihat hanyalah fatamorgana yang mendadak lenyap begitu didekati.

Fatamorgana sebagai phenomena alam, tentu bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Contoh-contoh  kejadian diatas, bagaiman manusia itu tertipu dengan phenomena alam. Dan tentu hanya orang yang berfikir yang memahaminya. Allah SWT, berualang-ulang mengingatkan  manusia untuk berfikir, dengan kalimat Tanya “apakah engkau tidak berfikir?”, “. Dari buah fikir itu munculah ilmu, dan dengan ilmu manusia membangun peradabannya.

Kehidupan di dunia ini adalah fatamorgana. Mari kita cermati Firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an surat al-Hadid:20; “ Ketahuilah  sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling   berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan , seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”.

Allah SWT, mengawali dengan mengatakan “ketahuilah  bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan”, dan diakhiri  dengan “ kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”.  Kuncinya adalah pada Iman yang ada didalam diri manusia itu sendiri. Dengan keimanannya, dan berdiri diatas rel keyakinanya untuk kepentingan kemanusiaan, untuk kepentingan sesama manusia, bukan karena harta yang melimpah, bukan untuk bermegah-megah, tetapi menempatkan diri menjadi manusia yang toleran, dan intoleran bagi semua tipu daya dan kesenangan yang menipu, dan yang mengingkari kehidupan.

Pembahasan

Toleransi-intoleransi dan multikultural, jangan hanya dijadikan casing  dan pencitraan. Jika itu yang dilakukan, maka kita sudah membangun kehidupan yang fatamorgana.  Terlihat seolah-olah dengan dijanjikan akan membangun  rumah yang layak, tanaman yang menghijau, jalan yang mulus, masyarakat yang rukun dan damai, makanan yang melimpah, uang dan cadangan devisa yang cukup, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, puja-puji bangsa lain yang terus mengalir, keamanan yang terjamin, ternyata itu semua kesenangan yang palsu, itulah fatamorgana. Maka jadilah bangsa ini sebagai “bangsa seolah-olah”.

Setelah kita melihat perjalanan Nasionalisme berbagai bangsa dunia, dan perkembangannya yang menginspirasi Nasionalisme Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika dan idiologi bangsa Pancasila, maka  diperlukan upaya untuk membangun Nasionalisme bangsa yang kokoh, permanent dan bertahan sepanjang masa, dengan pilar-pilar antara lain, toleransi-intoleransi, dan multicultural (isme), dalam bingkai emas NKRI.

Bangsa ini harus menghindari dan jangan terjebak dengan fatamorgana kehidupan. Semua pihak harus berlatih, dan dilatih untuk jujur,  ikhlas, bermanfaat dan bermakna bagi masyarakat. Sebagai pemimpin siapapun dia, apakah penyelenggara Negara, pemimpin dan tokoh masyarakat, tokoh agama, harus amanah.  Kebijakan  bernegara dalam menyelenggarakan pemerintahan, adalah  membuat pilihan-pilihan. Buatlah pilihan-plihan kebijakan yang memperhitungkan semua aspek, terutama mereka yang mendapatkan resiko terbesar dan tersulit. Mulailah dari situ cara memandangnya. Birokrasi pemerintah dibentuk dan dibiayai oleh rakyat tentu  bukan untuk menyengsarakan rakyat yang tidak mampu, tetapi dalam rangka redistribusi kue pembangunan kepada mereka yang tidak berdaya dalam persaingan usaha, persaingan ekonomi, dan persaingan kekuasaan, itulah tugas birokrasi pemerintahan dalam setiap merumuskan kebijakan publik yang harus di dilaksanakan rakyatnya. Berlapis jenjang birokrasi bukan tanpa maksud. Kepentingannya adalah mengawal dan mengecek apakah konsep-konsep kebijakan sudah mengacu kepada aturan diatasnya, sudah memberikan rasa keadilan, apakah sudah kondusif, apakah sudah toleransi dengan tingkat kesulitan masyarakat yang sedang dihadapi, apakah momentumnya tepat, apakah sasarannya tepat, dan apakah ada irisannya dengan kebijakan lain sehingga  tidak produktif out-putnya  bahkan mereduksi maksud diterbitkannya kebijakan.  Sebagai  contoh keluarnya PP 60/2016 tentang kenaikan tariff STNK kenderaan bermotor berlipat-lipat.  Kenapa  terjadi saling lempar tanggung jawab diantara penyelenggaran Negara yang diberikan wewenang dan tanggung jawab.  Produk PP tentu melalui mesin birokrasi yang cukup ketat. Mulai dari pemrakarsa dari lembaga kemeterian/lembaga non kementerian (LPNK)  yang berkepentingan, membahasnya dengan lintas kementerian/lembaga non kementerian terkait, diharmonisasikan di Kemenkumham dengan melibatkan lagi KL/LPNK, diajukan ke Sekab/Sekneg untuk dilakukan cross check dan diteliti, jika ada yang kurang jelas biasanya ditanyakan kembali kepada pemrakarsa draft PP, sudah clear dan clean di buat naskah asli untuk di paraf Menteri terkait sebelum di tanda tangani Presiden. Dalam proses penyusunan PP tersebutlah diperlukan berbagai pertimbangan yang diuraikan diatas.

Secara prosedur, semuanya sudah berjalan sesuai dengan system yang baku. Tetapi apakah semua jenjang mesin birokrasi itu melaksanakan tugasnya dengan menggunakan hati nurani, menggunakan empati, menggunakan radar sensitifitas untuk melihat situasi dan kondisi masyarakat, atau menggunakan falsafah; emangnya gua pikirin, guakan hanya melaksanakan perintah, emangnya gua dapat apa, berfikir sektoral, memakai kaca mata kuda.Bagaimana sebenarnya terjadi.   Kita tidak tahu, yang tahu sang birokrat dengan Tuhannya.

Model-model kerja mesin birokrat seperti ini, perlu diperbaiki.  Caranya bagaimana tentunya dapat dengan menggunakan berbagai metode. Antara lain kata kuncinya dengan membangun keteladanan (bukan pencitraan).

Kesimpulan

Mari kita bangun kesepahaman  tentang toleransi-intoleransi, dan multikultural sebagai kemajemukan bangsa adalah sesuatu yang memang ada, dan berproses di masyarakat dan di dalam penyelenggaraan pemerintahan.  Masyarakat melakukan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan dinamika yang berkembang, dan pemerintah dapat berperan sebagai gate keeper, agar semua proses berjalan dalam koridor-koridor idiologi Negara Pancasila.

Kita hindari Negara ini menjadi Negara dan bangsa se-olah-olah, seperti fatamorgana kehidupan yang seakan ada ternyata tiada. Rakyat ini disuruh berlari dan terus berlari untuk mendapatkan kesejahteraanya  yang terlihat  diujung jalan didepan mata. Sampai ditujuan ternyata kesejahteraan itu tidak nyata dan hanya fatamorgana. MARI KITA BANGUN NEGARA – BANGSA INI DENGAN HATI

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top