Opini

Waspada Pola Viral PKI, Partai Klepon Indonesia

Irsan Hidayat

Oleh: Irsan Hidayat, S,IP, M.AP

Alumni Pasca Sarjana Universitas Nasional

Seminggu ini media sosial yang menjadi salah satu wadah saya berburu informasi, penuh sesak tentang klepon. Salah satu jenis jajanan tradisional Indonesia terbuat dari tepung beras ketan berisi gula merah, berbentuk bulat ditaburi parutan kelapa di atasnya. KLEPON TIDAK ISLAMI, dominasi informasi di media sosial.

Awalnya saya cuek, saban hari media-media mainstream mulai menggoreng isu ini, teman-teman di media sosial mulai membahas dengan perspektif beragam dan meme-meme pun bermunculan. Kecuekan pun berubah menjadi peduli ketika isu klepon tidak islami coba merangsek masuk untuk mendeskreditkan islam. Mulai lah saya kepo mencari sumber awal informasi itu, yang ternyata dari media sosial twitter. Cuitan dengan gambar itu ternyata telah dihapus, namun jejak digital telah merebak pada akun medsos yang membahas. Allahuakbar, ternyata cuitan perdana dari akun twitter dengan pertemanan 1 orang. Ya, 1 orang. Kenapa bisa viral? Inilah yang coba kita analisis.

Viralnya cuitan klepon tidak islami dari akun bodong jelas by disaign, atau ada struktur dengan pola tertentu yang bermain. Apalagi Pola yang digunakan cukup sederhana, posting, viral, hapus, sehingga menguatkan dugaan by disaign. Pola praktisnya seperti ini, akun bodong memposting, akun-akun buzzer menyebarkan secara massif hingga viral, media-media mainstream memberitakan, setelah tahap tersebut berhasil, postingan perdana oleh akun bodong dihapus.

Alhasil, isu menjadi liar dibahas oleh banyak pengguna medsos, semakin hangat ketika menjadi perdebatan dikalangan alumni kecebong dan kampret. Kelompok (karena by disaign) pemosting awal klepon tidak islami telah berhasil mencapai tujuannya, yakni mengadu domba kalangan masyarakat dan jadi isu meresahkan, goals­-nya ingin mendiskreditkan islam. Jelas goals atau tujuan akhirnya ingin mendiskreditkan ajaran islam. Dari nama Abu Ikhwan Aziz, jananan tidak islami, kemudian mengajak membeli kurma di toko syariah yang menjadi isi postingan klepon tidak islami. Hal tersebut sengaja untuk membentuk serta menggiring opini agar muncul identitas seolah-olah seorang muslim taat. Padahal kafir atau mungkin orang islam munafik, tidak paham ajaran islam untuk mendiskreditkan kelompok Muslim taat.

Memahami ajaran Islam tentang makanan tidak terlalu sulit. Dalam kaidah ushul fiqih, menurut Imam Syafi’i, hukum asal segala sesuatu itu boleh sampai ada dalil yang mengharamkan. Konteks makanan, dalil Al-Qur’an dan Hadist jelas dan tegas mengharamkan babi, anjing, darah dan bangkai serta segala bentuk jenis olahannya. Maka jenis bahan makanan diluar yang disebutkan, maka hukumnya halal. Namun bisa berpotensi menjadi haram jika didapatkan dengan cara salah. Klepon yang halal bisa jadi haram jika dimakan dari hasil mencuri.

Kesimpulannya tidak ada label makanan islami, yang ada halal atau haram. Ajaran islam tentang makanan pun memberi batasan agar tidak berlebihan, tidak merusak tubuh dan tidak melalaikan ibadah. Kurma atau madu sekalipun jika dikonsumsi secara berlebihan, juga tidak baik bagi tubuh. Begitu juga klepon, dimakan berlebihan berpotensi mendatangkan penyakit, terutama diabetes. Kesimpulannya, menyatakan klepon tidak islami sungguh tuduhan keji.

Kembali lagi kepada postingan klepon tidak islami, lantas siapa mereka dan dari kelompok mana mereka berasal? Pertanyaan ini belum banyak yang membahas. Saya memastikan mereka dari kelompok PKI (Partai Klepon Indonesia), karena tabiatnya adalah mengadu domba dan meresahkan. Paling kentara dari mereka adalah anti dengan syariat Islam. Mereka sangat memuja klepon salah satu jajanan tradisional sebagai produk budaya, bukan agama. Sesuatu berbau islam mereka anti, namun hasil produk budaya mereka puja. Itulah cirri Partai Klepon Indonesia. Tetap kita doakan semoga Allah Ta’ala beri mereka Hidayah. Aamiin

Media Sosial Mengatur Manusia

Postingan viral klepon jika dianalisis sebagai pembentuk konflik masyarakat, ekses penggunaan media sosial sangat berdampak buruk terhadap tatanan kehidupan. Ditambah lagi pandemi covid 19 yang dialami dunia, membawa manusia pada titik mengerikan dari dampak media sosial. Kemunculannya saat ini tidak hanya mempengaruhi pemikiran dan opini, lebih dari itu, media sosial telah mampu mengatur raga manusia. Tagar stay at home secara massif berbagai media sosial, nyatanya berhasil membuat mayoritas manusia di bumi patuh.

Pada tahun 2011 terjadi apa yang disebut Arab Spring, gerakan massa melawan hingga menggulingkan rezim otoriter. Pemicu awal gerakannya bersumber dari media sosial. Di Hongkong pada tahun 2014 juga terjadi gerakaan massa memprotes dihapuskannya pemilihan kepala Pemerintahan secara langsung. Sejak 9 dan 6 tahun yang lalu, nyatanya media sosial mampu melahirkan gerakkan massa secara terbatas, atau mereka yang hanya peduli dan mengerti persoalan. Kini, kaum rebahan pun mampu digerakkan media sosial.

Apa saja sebenarnya yang disebut media sosial itu. Penting untuk dijelaskan, lantaran mayoritas menganggap media sosial hanya sebatas facebook, twitter dan instagram. Sisi Renia Alviani dan Chazizah Gustina dalam jurnalnya tahun 2018 berjudul “Analisis Media Sosial Sebagai Pembentuk Konflik Sosial Masyarakat”, mengelompokkan media sosial menjadi 10 bagian, antara lain: 1) Social Networks, media sosial untuk bersosialisasi dan berinteraksi (facebook, myspace, bebo, dll). 2) Discuss, media sosial yang memfasilitasi sekelompok orang untuk melakukan obrolan dan diskusi (google talk, skype, phorum, dll). 3) Share, media sosial yang memfasilitasi kita untuk saling berbagi file, video, musik dan sebagainya (youtube, slideshare, feedback, flickr, crowdstorm¸ dll). 4) Publish (wordpredss, Wikipedia, blog, wikia, dll). 5) Social game, media sosial berupa game yang dapat dilakukan atau dimainkan bersama-sama (koongregate, doof, pogo, dll). 6) MMO (kartrider, warcraft, neopets, conan, dll). 7) Virtual worlds (habbo, imvu, starday, dll). 8) Livecast (blog tv, llistream tv, livecastr, dll), 9) Livestream (socializr, froendsfreed, socialthings, dll), 10 Micro blog (twitter, plurk, pownce, plazes, dll).

Media massa berbasis online, juga masuk dalam kriteria media sosial, termasuk tulisan ini diterbitkan (pada bagian publish). Berdasarkan hasil riset We Are Social akhir Februari 2020, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 175,4 juta. Jumlah tersebut berarti 64% atau lebih separuh penduduk Indonesia telah terakses dengan dunia maya. Sedangkan jumlah pengguna media sosial diseluruh dunia mencapai 3,8 miliar atau hampir 50% dari total penduduk bumi.

Fakta tersebut harus membuat kita semakin waspada dengan gerakan-gerakan jahat oleh kelompok berkepentingan. Bahwa kondisi dunia saat ini, khususnya Indonesia, media sosial makin menancapkan pengaruhnya dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Kita mesti Tawakal, jeli, analitis dan sabar dalam bermedia sosial. Wajib menjadi pengguna media sosial yang cerdas atau cerdas bermedia sosial.

Media sosial tidak selalu berekses negatif, banyak pula sisi positif yang bisa diperoleh. Dari sisi ekonomi, media sosial merupakan wadah promosi yang efektif, efisien dan terjangkau. Media sosial juga dapat menjadi wadah menyebarkan kebaikan, menghadirkan inspirasi, saluran penyampaian pendapat dan ruang berekspresi. Bahkan media sosial mampu melahirkan gerakan massa dan perubahan politik, seperti yang terjadi di Mesir maupun Hongkong. Namun beberapa penelitian menyatakan, media sosial yang memicu gerakan massa akan menghadirkan perubahan politik tanpa arah tujuan yang jelas.

Rumus cerdas bermedia sosial cukup sederhana, menahan jari untuk membagikan informasi yang berpotensi meresahkan dan menciptakan konflik. Informasi sejenis ini cukup sampai kepada kita dan abaikan. Jika mampu lawan dengan informasi atau tulisan yang memberikan pencerahan sebagai upaya menetralisir keadaan. Saya tidak menyarankan terkait dampak media sosial berlanjut ke ranah hukum. Habiskan energi, urusan dunia maya dibawa ke dunia nyata.

Tidak suka dengan postingan media sosial tinggal abaikan, jika mampu lawan!

Tidak suka acara televisi, ambil remote, matikan!

Tidak tertarik berita media cetak, tinggal buang atau bakar sekalian!

Sesimpel itu menghindari mudharat informasi dari sumber media manapun. Lebih baik membaca buku atau diskusi, baik secara virtual dengan segala kekurangannya, maupun di dunia nyata yang tentu lebih berkesan. Wallahu a’lam bishawab.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top